Cara Sederhana mendeteksi gangguan prilaku Anak

Apakah Anak Memiliki Gangguan Perilaku? Ini Cara Mudah Mendeteksinya

Jakarta – Salah satu hal yang meresahkan orang tua terkait dengan perkembangan buah hati yakni jika mereka mengalami gangguan perilaku. Namun, banyak orang tua yang belum mengetahui bagaimana mendeteksi anak mereka apakah memiliki gangguan perilaku atau tidak.”Gangguan perilaku anak harus dideteksi dini karena perkembangan anak sulit diprediksi akhirnya. Awalnya bisa saja normal tapi ternyata dia tumbuh dengan tidak normal, atau justru sebaliknya sebab semua anak berisiko,” papar Dr dr Ahmad Suryawan, SpA(K) dalam Seminar ‘Siap Cerdaskan si Kecil Sejak Dini’ di Kuningan City, Jakarta, Sabtu (23/11/2013).Menurut pria yang akrab disapa dr Wawan, perlu kepekaan orang tua untuk mendeteksi gangguan perilaku pada anaknya. “Dokter anak di seluruh Indonesia jumlahnya hanya 3.000, itu tidak seimbang dengan jumlah anak di Indonesia. Nah, untuk melakukan hal itu, orang tua bisa membuat mini kuisioner,” kata dr Wawan.Buatlah mini kuisioner yang terdiri dari sepuluh indikator yakni:
1. Tidak kenal lelah atau aktivitasnya berlebihan
2. Mudah menjadi gembira dan impulsif (gembira berlebihan)
3. Mengganggu anak lain
4. Gagal menyelesaikan kegiatan yang telah dimulai dan rentang perhatiannya pendek, misalnya diajak orang tua untuk menulis, lalu dia pergi melakukan kegiatan lain
5. Menggerakkan anggota badan atau kepala terus menerus
6. Kurang perhatian dan mudah dialihkan
7. Permintaannya harus segera dipenuhi dan mudah frustasi
8. Mudah menangis (termasuk cengeng)
9. Suasana hati mudah berubah dengan cepat dan drastis
10. Meledakkan kekesalan dengan tingkah laku yang eksplosif (misal memukul orang, menjambak, dan menjedotkan kepala)

Isilah setiap indikator dengan frekuensi tidak pernah, kadang-kadang, sering, dan selalu. Masing-masing frekuensi mempunyai skor 0, 1, 2, dan 3. Kemudian, masing-masing jumlah tanda centang atau silang di tiap kolom frekuensi tidak pernah, kadang-kadang, sering, dan selalu dikalikan dengan nilai 0, 1, 2, 3. Hasil perkalian masing-masing frekuensi kemudian dijumlahkan sehingga Anda hanya mendapatkan satu angka saja.Jika skor terakhir berjumlah kurang dari 13, maka anak berperilaku normal.Dalam artian mereka biasa mengikuti perilaku orang tuanya. Nah, jika skor akhir 13-15 berarti Anda harus waspada karena bisa saja si kecil mengalami gangguan perilaku. Sedangkan, jika skor akhir di atas 15, maka mereka berisiko tinggi mengalami gangguan perilaku.”Artinya dia bisa benar- benar jadi anak dengan gangguan perilaku jika tidak segera ditangani. Maka yang harus dilakukan orang tua yaitu mengubah perilaku anak dengan melakukan ‘treatment’ sendiri selama enam bulan secara berkala dan rutin sembari berkonsultasi juga dengan dokter spesialis anak jika diperlukan,” terang dr Wawan.
Treatment tersebut adalah:
1. Perbanyak interaksi aktif dengan anak (sediakan waktu mengobrol dengan anak)
2. Verbalkan setiap kegiatan dengan anak. Janganlah menjadi orang tua pendiam. Misalnya, beri tahu anak jika mobil-mobilan beroda empat. Sehingga ketika diverbalkan, anak jadi tahu konsep warna, jumlah, angka, dan konsep lainnya.
3. Beri anak aktivitas yang bervariasi
4. Lebih bebaskan anak memilih mainan
5. Seimbangkan kegiatan fisik yang aktif dan pasif
6. Perkenalkan dengan nada dan musik
7. Bijak terhadap pemakaian gadget dalam artian jangan terlalu didominasi kegiatannya dengan bermain gadget
8. Perhatikan kualitas dan jumlah nutrisi
9. Berikan kesempatan yang rekreatif misalnya dengan mengajaknya berbelanja ke pasar atau berkebun.

detikHealth.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s