Polwan Berjilbab di Negara Barat

Kisah Polwan Berjilbab di 4 Negara Barat

1. Inggris
BBC merilis data per tahun 2001, sedikitnya ada satu juta kaum muslim dari total tujuh juta penduduk London. Dari jumlah muslim itu, 3.000 di antaranya menjadi polisi.
Penggunaan hijab bagi para wanita dianggap cukup membantu dalam proses perekrutan. Sebab dalam beberapa kesempatan sebelumnya, ada kandidat potensial yang mundur karena tak bisa menggunakan jilbab. Selain diberi izin untuk berjilbab pada polisi wanita, kaum pria terutama bagi kaum sikh, boleh menggunakan turban atau penutup kepala saat bertugas.
Model jilbab yang boleh digunakan oleh polwan Inggris diseragamkan. Mereka hanya bisa memakai kain berwarna hitam dan atau kain hitam dengan corak putih hitam kotak-kotak. Bahannya terbuat dari kain tahan api.
Tidak seperti jilbab tradisional, polwan di Inggris harus memakai kerudung yang simpel dan tidak menghalangi pandangan. Apalagi pernafasan. Karena itu, penggunaan jilbab tidak ada yang menutupi wajah atau memakai cadar. Desain jilbab juga sudah diuji oleh pasukan khusus agar tak mengganggu saat tugas.
Penggunaan jilbab di kalangan polwan di Inggris tak hanya sebagai sebuah simbol penampilan. Jauh lebih besar dari itu, ada misi untuk meningkatkan rasa toleransi antar ras di Inggris.

2. Swedia
Kepolisian Swedia pernah memberlakukan pelarangan pemakaian atribut keagamaan dalam institusinya, meliputi jilbab, turban dan kippa. Namun aturan itu dicabut sejak tahun 2006. 5 Tahun setelahnya, Kepolisian Swedia baru merekrut polwan berjilbab pertama, Donna Eljamal, yang saat itu baru berusia 26 tahun.
Donna memang sejak kecil ingin menjadi polisi. Sebelum mendaftar di Akademi Kepolisian Swedia, Donna bekerja melayani napi yang sedang dalam masa percobaan dan bersiap kembali ke masyarakat, Swedish Prison and Probation Service (Kriminalvarden).
“Saya suka bekerja dengan orang, menolong orang dan tidak sama setiap harinya. Saya selalu mengetahui bahwa yang saya lakukan sesuai dengan kepribadian saya. Dan itu menunjukkan bahwa perempuan menggunakan jilbab bukan karena tekanan tapi perempuan kuat dan independen,” imbuhnya.
Apa yang dialaminya itu juga merupakan refleksi Swedia yang multikultur. Dirinya selalu mendapatkan respek dari staf lain.
Dewan Kepolisan Nasional mengamini pengakuan Dona. “Kami hidup di komunitas modern dan multikultur, dan itu berjalan tanpa kami harus mengatakan untuk mengenali hak dasar yang sudah ada. Dan kebebasan beragama adalah salah satunya,” kata Kalle Wallin dari Dewan Kepolisian Nasional Swedia (Rikspolisstyrelsen) seperti dikutip dari thelocal, 6 Desember 2011 lalu.

3.Kanada
Kepolisian Daerah Edmonton, Provinsi Alberta, Kanada, sedang menggodok model seragam jilbab untuk polwan yang muslim. Kepolisian Edmonton berharap hal ini akan menarik perempuan muslim untuk bergabung menjadi polisi.
Ada 2 model yang sedang dipertimbangkan yang dasarnya tak mengganggu pernafasan atau penglihatan, dan tak menghalangi kinerja polwan yang dinamis, demikian seperti dikutip Huffington Post, 25 November 2013.
“Itu sedang diujicobakan dengan unit strategi pelatihan kepolisian. Model final belum diputuskan,” kata Leila Daoud, juru bicara Kepolisian Edmonton.
Sementara Natasha Goudar dari Kepala Unit HAM, Persamaan dan Keragaman Kepolisian Edmonton mengatakan bahwa kepolisian membutuhkan perempuan muslim untuk melayani komunitas di Edmonton yang beragam.
“Kami membutuhkan lebih banyak polisi perempuan. Karena komunitas di mana kami tinggal beragam, perempuan muslim adalah bagian dari perempuan Edmonton, jadi kami akan meningkatkan perempuan dalam organisasi kami. Kami butuh mengidentifikasi potensi hambatan yang ada,” kata Goudar.
Dewan Kota Edmonton mendukung apa yang dilakukan Kepolisian Edmonton ini. Salah satu anggota Dewan Kota, Scott McKeen, mengatakan bahwa ini adalah gerakan inklusif terhadap komunitas muslim di kota ini.

5. Australia
Kepolisian Victoria Australia sudah merekrut polwan berjilbab. Salah satu polwan berjilbab yang direkrut adalah Constable Maha Sukkar yang menjadi polwan berjilbab pertama di Kepolisian Victoria, demikian seperti dikutip dari The Age, 27 November 2004.
Saat itu Sukkar yang adalah imigran dari Beirut, Libanon, mengatakan sudah menjadi impiannya bergabung dalam Kepolisian Australia sejak tiba dari Libanon 4 tahun lalu. Jilbab khusus didesain untuk Sukkar, jilbab itu ringan, memiliki velkro yang bisa dengan mudah dipasang dan dilepas dengan seragamnya.
Kepala Kepolisian Victoria Christine Nixon, mengatakan pihaknya ingin menarik lebih banyak perempuan dari latar belakang budaya yang berbeda yang mencerminkan komunitas di Victoria.
“Saya pikir inilah Kepolisian Victoria yang menunjukkan bahwa kami sangat terbuka dari orang-orang yang memiliki semua latar belakang dan kebangsaan yang ingin bergabung dengan kami,” imbuh Nixon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s