Kisah Syi’ir Pujian karya Habib Umar bin Hafidz

Muslimedia News – Media Islam

Muslimedianews ~ Ada dua hal yang ingin saya sampaikan terkait menyambut bulan kelahiran Nabi Saw. Yang mana seluruh umat Muslimin di dunia mayoritas bergembira dan meluapkan kegembiraannya dengan semarak bershalawat kepada Nabi Saw. Walaupun begitu, masih ada saja yang mengatakan syirik terhadap sayir-syair pujian kepada Baginda Nabi Agung Muhammad Saw.
a.    Kunjungan Al-Habib Umar Bin Hafidz Ke Mesir, Keharumannya Telah Tercium”
Beberapa tahun yang lalu, al-Habib Umar bin Hafidz berkunjung ke Mesir. Dalam kunjungannya tersebut, beliau memnyempatkan untuk berziarah kepada seorang ulama Mesir yang cukup berpengaruh di negaranya. Beliau dikenal memiliki bashirah (pandangan hati yang tajam) walaupun mata beliau tidak bisa melihat (buta).
Ketika itu al-Habib Umar bin Hafidz ditemani oleh muridnya, al-Habib Ali al-Jufri, dan beberapa orang lainya. Sebelum mereka sampai ke tempat sang syaikh, sang syaikh lebih dulu tahu, beliau berkata: “Aku mencium bau harum dari ulama Hadhramaut.”
Tak lama kemudian, al-Habib Umar beserta rombongan pun datang. Al-Habib Umar pun mulai beramah tamah dengan syaikh tersebut.
Tatkala ziarah dirasa cukup, al-Habib Umar pun memerintahkan seorang munsyid dari rombongan beliau untuk melantunkan sebuah qasidah. Munsyid itu pun memilih untuk membawakan qasidah karya al-Habib Umar. Ternyata qasidah itu membuat sang syaikh ta’jub. Ketika qosidah telah selesai dilantunkan, sang syaikh langsung bertanya: “Qasidah ini karya siapa?”
Ketika munsyid itu hendak mengatakan bahwa qasidah itu adalah karya al-Habib Umar, ternyata al-Habib Umar mendahuluinya dengan berkata: “Ini adalah salah satu karya ulama Hadhramaut.” (jawaban ini menunjukkan ketawadhuan beliau).
Syaikh itu pun menanggapi jawaban itu: “Kalau sekiranya ulama itu masih hidup, maka dia berhak untuk didatangi oleh orang-orang dan orang-orang itu belajar kepadanya serta mengambil manfaat darinya. Kalau ulama itu telah meninggal, maka kuburannya berhak untuk diziarahi.”
Walaupun al-Habib Umar sering mendapatkan pujian seperti ini, beliau tidak pernah merasa bangga, buktinya beliau sering sekali menyempatkan waktunya untuk menziarahi para ulama yang telah sepuh di negara yang dikunjunginya. Maka, sudah sepatutnya bagi kita untuk mencintai para ulama dan kaum shalihin, karena kecintaan itu insya Allah akan memberikan kita manfaat di dunia dan akhirat kelak. Wallahu A’lam.
b.    Sekilas Tentang Puji-pujian Kepada Nabi Saw. Syirik?
•    Pertanyaan: “Apa pendapatmu tentang mendengarkan dan mendendangkan puji-pujian terhadap Nabi Saw.? Karena yang kudengar ada beberapa kalimatnya masuk ke dalam kategori syirik, wal’iyadzu billah.”
•    Jawaban al-Habib Muhammad Assegaf: “Puji-pujian adalah obat baginya dan ungkapan luapan kerinduannya kepada Rasulullah Saw. Adapun hubungannya dengan syirik sungguh teramat jauh. Karena Rasulullah Saw. telah berhasil melenyapkannya dari umatnya. Lebih dari 150 sahabat Nabi Saw. suka (hoby) menyenandungkan syi’ir-syi’ir pujian kepada Rasulullah Saw. Adapun yang termasyhur diantara mereka adalah Sayyiduna Hasan bin Tsabit Ra. yang mana Rasulullah Saw. pernah mendoakannya atas perbuatannya itu dengan doa: “Ya Allah kuatkanlah ia dengan Ruh al-Quds (Jibril As.) (HR. Muslim).” Dan tak ada perbedaan pendapat sama sekali atas permasalahan ini.”
(Sumber kisah: Habib Abdul Aziz Al-Hinduwan, santri Darul Musthafa li al-Habib Umar bin Hafidz).
Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s