Khalifah dan Khilafah

Muslimedianews.com ~ Meskipun memiliki bunyi yang hampir mirip, khalifah dan khilafah memiliki arti yang sangat berbeda. Khalifah, seperti yang terdapat dalam Al Qur’an adalah pengganti Allah di muka bumi sedangkan khilafah lebih seperti kerajaan saja.
 
“Tidak ada kata-kata khilafah dalam Al Qur’an, yang ada adalah khalifah,” kata wakil ketua Lembaga Bahtsul Masail KH. Cholil Nafis dalam acara seminar Radikalisme dalam Perspektif Madrasah, yang diselenggarakan di madrasah Aliyah Al Muddatsiriyah Kemayoran, sebagaimana pernah dilansir oleh situs resmi NU Online pada Maret 2012 lalu.

KH. Cholil Nafis menjelaskan terdapat dua pemahaman keliru yang perlu diluruskan yang saat ini banyak beredar di masyarakat. Pertama adalah seruan untuk masuk Islam secara kaffah. Oleh kelompok tertentu, arti kaffah dimaknai dengan tafsir perintah mendirikan negara Islam. “Yang benar, masuk Islam secara kaffah, ya jangan tanggung-tanggung dalam berislam. Jangan cari enaknya saja atau yang cocok saja, yang ngak enak atau yang berat ditinggalkan,” jelasnya.

Bentuk negara, katanya, adalah sebuah organisasi yang bentuknya bisa apa saja, seperti orang membikin rumah, bisa model minimalis, model betawi atau model lain yang disuka. “Model apa saja boleh, yang penting didalamnya bisa melaksanakan ibadah,” katanya.

Negara Indonesia saat ini dalam posisi yang sangat jelas dalam memberikan kebebasan masyarakat untuk beribadah. Kemerdekaan Indonesia merupakan hasil upaya bersama yang harus dipertahankan. “Kelompok yang dulu tidak ikut berjuang dan sekarang ingin membubarkan NKRI termasuk tindakan bughot,” tandasnya.

Cholil yang dosen pasca sarjana UI ini mengingatkan para pelajar akan istilah al wala’ wal baro yang artinya hanya loyal kepada Allah sehingga segala sesuatu boleh diambil atas nama milik Allah. “Selama hidup, kita tidak bisa dilepaskan dari habluminannas dan habluminallah,” terangnya.

Tafsir kedua yang sering tidak tepat adalah jihad fi sabilillah yang dimaknai perintah perang dan membunuh. “Berjihad hanya diizinkan kalau orang mendholimi kita sehingga kita harus mempertahankan diri,” paparnya.

Dalam konteks sekarang, pemaknaan yang paling pas terhadap jihad adalah bekerja keras termasuk belajar keras agar pandai. Ia menuturkan, yang dibutuhkan sekarang adalah orang yang berani hidup, bukan berani mati.

Para teroris pelaku bom bunuh diri yang rata-rata masih berusia muda merupakan orang yang mengalami masalah dalam hidupnya, yang lalu mendapat bujukan untuk melakukan jalan pintas, seolah-olah ini jalan yang benar dengan janji akan mendapat bidadari dengan melakukan bom bunuh diri, padahal bisa saja malah masuk neraka.

“Lebih baik adik-adik sekarang belajar keras. Nanti kalau kita pandai dan punya keahlian, pekerjaan akan datang sendiri, tak perlu dicari,“ imbuhnya.

Ia mengingatkan kepada para pelajar agar jangan sampai keliru dalam mencari guru agama. Jangan sampai semangat untuk menimba ilmu agama malah terjerumus dalam jalan yang salah akibat guru yang keliru. Dikatakannya, orang-orang Betawi zaman dahulu ketika mencari guru agama selalu ditelusuri jejak keilmuannya sehingga bisa dipastikan apa yang diajarkan tidak menyimpang. (*/)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s