Hukum Sholat ‘Ied menurut 4 Madzhab

Detik Islam » Hukum Shalat ‘Ied Menurut Madzhab yang Empat

Dalam Kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyah yang diterbitkan oleh Kementerian Waqaf dan Urusan Keislaman Kuwait, disebutkan pendapat madzhab yang empat tentang hukum shalat ‘ied. Berikut penjelasannya.

1. Menurut pendapat yang shahih dari kalangan Hanafiyah, shalat ‘ied hukumnya wajib. Wajib menurut Hanafiyah adalah derajat antara fardhu dan sunnah. Dalil atas pendapat ini adalah perbuatan Rasul yang terus melakukan shalat ini tanpa pernah meninggalkannya walaupun hanya sekali.

2. Menurut Syafi’iyah dan Malikiyah, shalat ‘ied hukumnya sunnah muakkadah. Dalil mereka adalah hadits shahih (riwayat al-Bukhari dan Muslim) tentang seorang Arab badui. Ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan kepadanya tentang shalat lima waktu, Arab badui tersebut bertanya, ‘Apakah ada kewajiban lainnya untukku selain shalat lima waktu tersebut (هل علي غيرهن؟)’, Rasul menjawab, ‘Tidak, kecuali yang tathawwu’ (لا، إلا أن تطوع)’.

3. Menurut Hanabilah, shalat ‘ied hukumnya fardhu kifayah. Ini berdasarkan firman Allah ta’ala dalam surah al-Kautsar ayat 2 yang berbunyi فصل لربك وانحر, dan perbuatan Rasul yang terus-menerus melakukan shalat ini.

Ada beberapa tambahan penjelasan yang diberikan oleh Syaikh Dr. Wahbah az-Zuhaili hafizhahullah di kitab beliau, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Berikut tambahan penjelasan dari beliau.

1. Menurut Hanafiyah, kewajiban shalat ‘ied berlaku bagi orang-orang yang diwajibkan shalat jum’at, beserta syarat-syaratnya, kecuali khutbah (maksudnya khutbah ‘ied berbeda dengan khutbah jum’at), karena khutbah ‘ied hukumnya sunnah dan dikerjakan setelah shalat.

2. Menurut Syafi’iyah dan Malikiyah, shalat ‘ied hukumnya sunnah muakkadah bagi orang-orang yang diwajibkan shalat jum’at.

3. Menurut Malikiyah, tidak disunnahkan shalat ‘ied bagi anak-anak, wanita, budak, dan musafir yang tidak berniat menghentikan perjalanannya. Shalat ‘ied juga tidak disunnahkan bagi orang yang berhaji dan penduduk Mina, walaupun penduduk Mina tersebut tidak sedang berhaji. Masih menurut Malikiyah, shalat ‘ied disunnahkan bagi wanita yang tidak lagi berusia muda (لغير المرأة الشابة).

4. Menurut Syafi’iyah, shalat ‘ied disyari’atkan juga bagi perorangan (منفرد), sebagaimana berjamaah. Disyari’atkan juga bagi budak, wanita, musafir, banci (الخنثى), dan anak kecil. Untuk shalat ‘ied tak harus memenuhi syarat sebagaimana shalat jum’at, dari sisi berjamaahnya, jumlahnya, dan lain-lain.

5. Menurut Hanabilah, surah al-Kautsar ayat 2 (sebagaimana yang sudah disebutkan) menunjuk kepada shalat ‘ied, hal ini sudah masyhur dalam sirah.

6. Shalat ‘ied, menurut Hanabilah, merupakan syiar agama yang nyata, kewajibannya seperti kewajiban jihad. Jika penduduk suatu negeri yang jumlahnya telah mencapai 40 orang meninggalkan shalat ini tanpa ‘udzr, maka imam (penguasa/khalifah) boleh memeranginya, karena shalat ‘ied merupakan salah satu syi’ar Islam yang nyata, dan meninggalkannya dianggap sebagai peremehan terhadap diin.[]Oleh : Abu Furqan al-Banjary (abufurqan.net)

http://detikislam.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s