Wahdat al-Syuhud: Pembuka Hijab Yang Terlupakan

Wahdat al-Syuhud: Pembuka Hijab Yang Terlupakan

November 5, 2014
Oleh: Ubaidillah Achmad

Dalam sebuah acara diskusi “bedah buku” yang diadakan teman-teman aktifis LPM Edukasi, bertema Suluk Kiai Cebolek dalam Konflik Keberagamaan dan Kearifan Lokal, di Lantai II FITK UIN Walisongo Semarang, telah muncul pertanyaan menarik: apa kegunaan wahdah as syuhud dalam konteks pribumisasi pendidikan Islam?

Sebelum terjawab pertanyaan ini, saya memperhatikan pada wajah penanya seperti menunjukkan sikap tidak percaya terhadap ajaran wahdah as syuhud. Penanya beranggapan wahdah as syuhud, adalah konsep langit yang sulit diaplikasikan dalam konteks pembentukan mental atau menguatkan gerakan revolusi mental, seperti yang dicanangkan oleh presiden kita, yang mencetuskan kabinet kerja, yang sebelumnya diusung oleh koalisi Indonesia hebat.

Karena penanya menanyakan pada saat acara sudah larut malam dan berakhir pada pukul 24.00 WIB, maka saya tidak bisa memberikan jawaban yang lebih focus dan terkonsentrasi pada harapan penanya. Meskipun demikian, dengan tidak mengurangi semangat proses pencarian penanya pada konsentrasi ilmu keislaman bidang ilmu tasawuf, dalam tulisan ini saya akan mengulasnya kembali, dengan harapan menambah penguatan makna wahdah as syuhud yang selama ini telah menjadi anggapan banyak para ilmuwan arus utama ilmu pengetahuan modern dan (juga) telah menjadi anggapan para pendidik di lingkungan pendidikan agama Islam, bahwa ilmu tasawuf adalah ilmu yang berdimensi vertical, yaitu ilmu untuk menjalin relasi kehambaan seorang manusia dihadapan Allah Jalla Jalaluhu. Karena menjadi terkesan sebagai ilmu untuk konsumsi orang-orang tua yang hanya menunggu hitungan hari menikmati hidup di dunia. Dalam konteks yang lain, ilmu tasawuf hanya dipahami sebagai ilmu yang mengajarkan cara menghitung tasbis bersamaan dengan menyebutkan kalimah-kalimah yang baik. Secara umum, banyak yang menganggap, bahwa ilmu tasawuf adalah ilmu tentang kematian.

Sehubungan dengan pertanyaan peserta lingkaran ilmiah LPM Edukasi UIN Walisongo Semarang ini, perlu mendapatkan apresiasi bersama, karena telah mengingatkan pikiran para praktisi pendidikan dalam tradisi pendidikan Islam, yaitu kegunaan ilmu tasawuf di tengah isu arti penting revolusi mental ala Jokowi. Karenanya, dalam tulisan ini ingin memastikan, bahwa kebanyakan teori ilmu pendidikan banyak yang mendasarkan pada cara dan pendekatan pola pembentukan mental melalui gejala psikis subjek dampingan. Jika pembentukan mental terbatas pada gejala psikis, maka akan mudah kropos dan lemah di tengah benturan dan ujian yang terus mencabik-cabik mental manusia.

Karenanya, kemunculan ilmuwan, politikus, negarawan, aktifis kemanusiaan, penguasa pemerintahan, belum banyak menyelesaikan persoalan yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini, karena mental yang dibentuk mereka ini hanya pada mental yang dibangun dari pengaruh luar via pendekatan gejala psikis, belum mental yang murni pembentukan dari pengaruh dalam hati via pendekatan sumber gejala psikis, yang berupa keseimbangan unsur jiwa yang menjadi satu kesatuan ikatan dengan Allah Jalla Jalaluhu. Jika memahami dan mempengaruhi mental hanya dari pengaruh luar via pendekatan gejala psikis individu, maka masih akan membuka kemungkinan tergoda pada hal-hal yang bersifat kepentingan sesaat, kepentingan duniwiyah, kepentingan nafs al amarah bissu’, kepentingan syahwat, dan kepentingan angan-angan kosong tentang ilusi kehidupan ini.

Berbeda dengan mental yang dibentuk dari pengaruh luar via pendekatan gejala psikis, mental yang dibentuk dari pengaruh dalam via pendekatan sumber gejala psikis yang menjadi satu kesatuan ikatan dengan Allah Jalla Jalaluhu, akan membentuk perilaku dan prinsip hidup berdasarkan keseimbangan unsur jiwa dan kebenaran universal yang bersumber dari Allah Jalla Jalaluhu. Perilaku yang seperti ini telah dikatagorikan sebagai manusia yang telah mencapai sosok yang berkepribadian sempurna (insan kamil). Kepribadian yang telah mencapai martabat insan kamil, salah satunya adalah kepribadian yang telah mencapai kesadaran kritis memahami seluruh fenomena alam penciptaan yang tidak terlepas dari satu kesatuan kesaksian wujud Allah Jalla Jalaluhu (wahdah as syuhud).

Dengan demikian, konsep wahdah as syuhud ini bukan konsep langit sebagaimana yang banyak dipersepsikan para praktisi pendidikan, baik di lingkungan lembaga pendidikan Islam maupun lembaga pendidikan sekuler. Konsep wahdah as syuhud ini adalah konsep bumi yang secara aplikatif dapat dijadikan sebagai konsep untuk membentuk kesempurnaan keseimbangan jiwa dan kesempurnaan kepribadian yang baik dan berkarakter. Jika pencapaian martabat insan kamil telah tercapai, maka secara otomatis akan mewujudkan harapan gerakan revolusi mental di Indonesia.

Jadi, revolusi mental itu bukan perebutan kekuasaan, revolusi mental itu bukan membagi-bagi kekuasaan, revolusi mental itu bukan target kerja fisik, tetapi revolusi mental itu adalah revolusi membentuk keseimbangan jiwa dan kesempurnaan kepribadian yang baik, hidup yang bermartabat mengedepankan profesionalitas dan penuh kejujuran.

Wahdah As Syuhud

Istilah hijab merupakan persoalan yang mengganggu para darwis menghubungkan lathifahnya mencapai lathif Allah Jalla Jalaluhu. Jika persoalan hijab belum terbuka dari ruang jiwa para darwis, maka para darwis masih harus berusaha meminimalisir dorongan hasrat amarah, syahwat, dan angan-angan kosongnya. Artinya, bersamaan dengan menunggu terbukanya hijab, maka seseorang dapat menghindari perilaku dan perbuatan yang buruk di tengah aktifitasnya. Jadi, sebelum hijab terbuka, dua hal yang harus diwaspadai agar tidak menjadi kebiasaan perilaku seseorang, yaitu perbuatan yang buruk dan kehendak amarah, syahwat, dan angan-angan kosong.

Keduanya, akan memperkuat ketebalan hijab yang menutup kesaksian pengetahuan tentang wujud dan keberadaan-Nya. Istilah hijab ini akan mempengaruhi kualitas pengetahuan, kesaksian, dan kesatuan dengan Allah Jalla Jalaluhu. Sedangkan, istilah hijab akan menghalangi pencerahan jiwa dan keberadaan manusia pada kosmologi kehidupan, baik antar sesama umat manusia, antar lingkungan hidup, dan antar diri dan Allah Jalla Jalaluhu.

Meskipun demikian, konsep wahdah as syuhud dapat dijadikan acuan memahamai dan menyaksikan Allah Jalla Jalaluhu dengan tanpa mempersoalkan hijab. Konsep wahdah as syuhud ini, juga dapat memposisikan keberadaan manusia menerapkan prinsip keadilan secara proporsional di tengah kehidupan umat manusia mengarungi gelombang kehidupan. Dalam perspektif wahdah as syuhud, jika seseorang mempersoalkan hijab, maka akan menjadi hijab itu sendiri. Artinya, yang terpenting adalah, baik ada hijab atau tidak ada hijab yang menghalangi jiwa manusia, manusia tetap memberikan kesaksian dan keteguhan kesaksian dengan iman, islam, dan ihsan, maka seluruh hijab menjadi tidak lebih berarti dari pada menggerakkan nikmat anugrah yang diberikan Allah Jalla Jalaluhu. Adapun secara aplikatif, konsep wahdah as syuhud akan dibahas dalam sub bab berikutnya. Dalam sub bab ini akan membahas perspektif penulis sendiri tentang wahdah as syuhud.

Sebelum sampai pada pembahasan sub bab dalam perspektif penulis, perlu memahami sejarah dan prinsip normatif tentang wahdah as syuhud. Adanya konsep wahdah as syuhud pernah menjadi risalah kesufian ‘Umar Ibn Al-Faridh, yang lahir di Mesir abad VI H wafat abad VII H (576 H./1181 M – 632 H./1233 M. Umar Ibn Al Farid ini dikenal sebagai raja di antara para pecinta (sulthan al-asyiqin). Dalam prinsip Umar Ibn al Farid menegaskan, bahwa belajar tasawuf tidak bisa hanya dilalui melalui ilmu (ilmu kasyf), baik secara langsung maupun tidak langsung, namun juga harus dilalui melalui amal (riyadhah).

Pola perilaku riyadlah bisa dilakukan dengan cara takhalli, tahalli, tajalli. Mengacu pada pertanyaan penanya yang diajukan kepada penulis, kedua prinsip Umar Ibn Al Farid yang berupa keterpaduan antara ilmu kasyaf dan riyadlah, akan sulit diaplikasikan pada sikap mental seseorang dengan tanpa memahami konsep wahdah as syuhud. Konsep wahdah as syuhud ini sebenarnya sangat kental dalam pandangan-pandangan tasawuf Umar Ibn al Farid, namun karena ia lebih menekankan pada pandangan keterpaduan ilmu kasyaf dan riyadlah, maka rahasia wahdah as syuhud sendiri belum terbaca secara lebih aplikatif dalam perspektif pembentukan kepribadian dalam pendidikan Islam.

Secara normatif, pengertian Wahdah As Syuhud dapat dipahami sebagai bentuk kesatuan dalam kesaksian, bukan kesatuan antara dua wujud. Artinya, wujud manusia berbeda dengan wujud-Nya, namun dalam wujud manusia ini telah memastikan kesaksian wujud Allah Jalla Jalaluhu. Adanya gerak alam penciptaan yang bervariasi merupakan bentuk penciptaan dan keberadaan yang diciptakan dan digerakkan oleh Allah Jalla Jalaluhu. Seluruh keberadaan alam penciptaan termasuk manusia telah lenyap dalam kesaksian manusia terhadap wujud-Nya melalui tajalliyat Ilahi.

Dalam perspektif teoritis, pengertian wahdah as syuhud menyulitkan pemahaman subjek. Karenanya, diperlukan media atau instrumen yang memudahkan seseorang memaknai konsep kesatuan kesaksian (wahdah as syuhud). Misalnya, memahami sebuah pengertian Yang Esa pada yang aneka dan melihat yang aneka pada Yang Esa. Dalam pengertian ini dapat dianalogikan dengan sebuah konsep, bahwa kemampuan melihat makro kosmos dapat melihat mikro kosmos dan sebaliknya. Pola pemahaman tantang wahdah as syuhud yang seperti ini merupakan bentuk pemahaman individu kesatuan kesaksian dan melakukan fana dan menerima anugrah cinta, sehingga hanya menyaksikan (syuhud) kepada Allah Jalla Jalaluhu.

Jika pemahaman dan pengalaman tentang wahdah as syuhud tidak dipahami dengan benar melalui sebuah instrument yang bersumber langsung dari Allah Jalla Jalaluhu, maka akan membuat kesalahan fatal menangkap mutiara ilahiyah yang banyak ditemukan oleh para pelaku sufistik. Secara ilmiah, dapat dipahami, bahwa konsep wahdat al-syuhud ini berbeda dari doktrin al-hulul. Konsep ini bukan pada substansi manusia yang melebur ke dalam dzat Tuhan, tetapi fananya seluruh yang ada dari kesadaran dan penglihatan sehingga yang nampak ada hanyalah Dzat Yang Esa. Jadi, wahdat al-syuhud berbeda dengan wahdat al-wujud.

Meskipun demikian, ada beberapa Ulama bidang ilmu tasawuf yang menyamakan antara wahdah as syuhud dengan wahdah al wujud. Secara empiris, wahdat al-syuhud dapat dialami seseorang dalam keadaan sadar (al-mahwu) dan dalam situasi mabuk (sakr). Secara spesifik, wahdah as syuhud merupakan bentuk konsep kesatuan, namun bukan kesatuan dalam konteks peleburan manusia dengan Yang Esa secara jasmani. Makna kesatuan dalam perspektif wahdah as syuhud, adalah ketersingkapan rahasia wajah-Nya sesudah manusia fana kesadaran dan fana kemauannya. Misalnya, fana segala penglihatan di sekitarnya. Dalam proses fana ini manusia berada dalam kehendak-Nya dan menyaksikan wujud-Nya.

Pembuka Hijab yang Terlupakan

Konsep wahdah as syuhud sudah menjadi konsep yang berkembang luas di lingkungan tradisi tarekat di Indonesia. Karenanya, hampir mursyid tarekat di Indonesia memiliki pandangan wahdah as syuhud. Hal ini bisa dilihat dari beberapa karya ulama’ nusantara yang mengajarkan tarekat mu’tabarah yang dibawah koordinasi Nahdlatul Ulama’. Meskipun demikian, para ulama’ yang berpegang pada konsep wahdah as syuhud banyak yang menyampaikan perspektif kesufiannya dengan menggunakan pandangan yang bersumber dari karya-karya Hujjatul Islam, Imam Maulana Abu Hamid Al Ghazzali. Pola pembelajaran keilmuan tarekat di Indonesia ini, karena didasarkan pada pengambilan keputusan Ulama NU tentang arus utama keilmuan bidang ilmu-ilmu keislaman yang harus didasarkan pada: Maulana Abu Hasan Al Asy’ari, Maulana Abu Hamid Al Ghazzali, Para Imam Madzhab Al Arba’ah.

Konsep wahdah as syuhud sebenarnya selalu ditegaskan dalam bacaan-bacaan tahlil di lingkungan masyarakat Indonesia. Misalnya, pada kalimah tayyibah Laa Ilaha Illa Allah, yang selalu diulang dengan kalimah: Laa Maujuda Illa Allah atau Laa Ma’buda Illa Allah. Kedua kalimah ini merupakan bentuk kalimah yang sebenarnya memberikan kesatuan kesaksian kepada Allah Jalla Jalla Jalakluhu. Secara praktis konsep wahdah as syuhud ini dapat dipahami dari rahasia QS. Al Fatihah (Ummul Kitab) pada ayat 1, 2, 3, 4. Dalam ayat pertama dapat dibaca pada kalimah Bismillah yang menegaskan, bahwa keberadaan manusia meniscayakan sebuah keterikatan dengan Allah Jalla Jalaluhu. Dalam kalimah Bismillah ini menegaskan adanya potensi lathifah manusia sebagai bentuk potensi yang memungkinkan dapat bertemu dengan lathif Allah Jalla Jalaluhu. Keberadaan manusia secara otomatis telah menguatkan ikatannya dengan Allah Jalla Jalaluhu. Allah Jalla Jalaluhu sebagai kekayaan tersembunyi manusia yang jika diketahui manusia akan menguatkan energi gerak kesaksian manusia kepada Allah Jalla Jalaluhu.

Jadi, kalimah Bismillah menegaskan, bahwa keberadaan manusia dalam ikatan kuat dengan Allah Jalla Jalaluhu, sehingga sewaktu-waktu dapat hadir dalam sebuah kesaksian yang nyata. Bentuk kesaksian manusia kepada Allah Jalla Jalaluhu dapat disaksikan dengan tanpa harus berupa meteri, fisik, inderawi. Karena sesuatu yang ada itu, tidak meniscayakan ada secara materi, namun bisa berupa non materi. Sesuatu yang bersifat non materi bisa dipahami secara rasional dan empiris oleh setiap manusia yang berakal dan merenungkan pada perkembangan kejiwaan dan fisiknya.

Meskipun rahasia kesatuan kesaksian pada kalimah bismillah sulit dipahami kebanyakan manusia, namun adanya kalimah Ar Rahman sesudah kalimah Bismillah merupakan bentuk yang memudahkan seseorang memahami wahdah as syuhud. Dalam kalimah Ar Rahman, bermakna adanya gerak rahman yang telah menunjukkan bukti perwujudan-Nya pada alam penciptaan (alam makhlukah). Dengan kata lain, manusia memandang dengan kedua mata, berarti ia telah menggerakkan pandangan rahmani-Nya. Manusia mendengarkan dengan kedua telinga, berarti ia telah menggerakkan pendengaran rahmaninya. Manusia berjalan dengan kedua kaki, berarti ia telah menggerakkan jalan rahmani-Nya. Manusia merasakan nafas yang keluar dan masuk pada kedua lobang hidung, adalah merupakan bentuk nafas rahmani-Nya. Artinya, keseluruhan gerak alam penciptaan (alam makhlukah), adalah gerak rahmani-Nya. Keberlangsungan gerak rahmani ini merupakan bentuk gerak rahmani yang tidak mengecualikan di antara alam penciptaan. Dengan fungsi Bismillah dan Ar Rahman ini merupakan bukti adanya keberadaan manusia telah bertajalliyah ilahiyah. Kerangkan dasar konsep “tajalliyah ilahiyah” ini merupakan bentuk bukti, bahwa manusia telah melakukan kesatuan kesaksian dengan Allah Jalla Jalaluhu.

Jika konsep tajalliyah ilahiyah ini telah merasuk dalam kesadaran penuh manusia, maka manusia akan mencapai Rahim-Nya. Kondisi Rahim Allah Jalla Jalaluhu ini telah digambarkan sebagai tempat pencapaian manusia pada kebahagiaan sejati manusia. Kenikmatan Rahim Allah Jalla Jalaluhu ini bisa dirasakan oleh manusia, baik ketika masih di dunia maupun di akhirat. Dalam kesadaran kesatuan kesaksian yang telah disandikan pada ayat pertama ummul kitab ini akan mempengaruhi ketajaman merespon gerak rahmani-Nya dengan penuh rasa syukur yang mendalam kepada Allah Jalla Jalaluhu sampai pada kemampuan perolehan keilmuan yang bersumber langsung dari Allah Jalla Jalaluhu (Al-Hamdlulillahi Rabbil ‘Alamiin). Sifat Ar Rahman dan Ar Rihim dalam QS Al Fatihah telah diulang dua kali, yaitu pada ayat pertama dan pada ayat ketiga. Artinya, kedua sifat ini selain sebagai jalan hidup manusia yang harus semakin menajamkan wahdah as syuhud, juga sebagai hak universal Allah Jalla Jalaluhu yang telah diperuntukkan pada alam penciptaan.

Adanya konsekuensi kekhalifahan bumi yang berada dalam pundak kewenangan manusia, maka manusia bertanggung jawab atas kekhalifahan bumi ini. Energi besar yang dapat dijadikan manusia untuk menyelami bahtera kehidupan ini, berupa sikap diri meningkatkan ketajaman kesatuan kesaksian (wahdah as syuhud). Arus besar dan sinar kuat wahdah as syuhud ini tersimpan pada rahasia makna QS. Al Fatihah [01]: 1,2,3,4. Jadi, kemunculan QS. Al Fatihah [01]: 1 – 7, merupakan bentuk kemunculan pembuka hijab yang terlupakan oleh umat manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s