Wahdah Al Wujud: Kosmologi yang Hilang dari Ingatan

Wahdah Al Wujud: Kosmologi yang Hilang dari Ingatan November 17, 2014 Ubaidillah Achmad (Padepokan As Syuffah dan Dosen Filsafat Pendidikan UIN Walisongo) Dalam kesempatan usai menyampaikan bedah buku suluk Sulthan Auliya’ Syekh Ahmad Al Mutamakkin dalam Konflik Keberagamaan dan Kearifan Lokal, di Aula Padepokan As Syuffah Pamotan Rembang, 1/11/2014, seseorang yang sedang minum secangkir kopi bersebelahan dengan saya bertanya: apa yang mendasari keberpihakan saya terhadap masyarakat dampingan tolak industri semen di kawasan Rembang? Pembahasan pola keberpihakan saya terhadap masyarakat dampingan tolak semen sudah saya bahas pada tema Gerakan Perempuan Kendeng: Menjaga Kosmologi dan Membendung Industri. Karenanya, saya menyarankan pada penanya untuk membuka www.lpmedukasi.com, yang telah memuat pembahasan tema ini, ditinjau dari horizon Ibu-Ibu Ring Pertama Pegunungan Kendeng, pola keberagamaan, dan makna penjagaan terhadap kosmologi. Karenanya, penanya mengalihkan pertanyaan baru, yang tidak kalah menarik: apakah ada pembahasan kosmologi dalam perspektif Ulama Tasawuf? Uraian tentang kosmologi dalam bidang ilmu keislaman, justru terbanyak pada karya-karya sufistik. Misalnya, karya Imam Maulana Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazzali yang diuraikan dalam kitab “Al Hikmah Fi Makhluqatillahi Ta’ala”. Karena saya telah membahas karya Imamuna Al Ghazzali ini dalam sebuah artikel, maka saya menjelaskan makna kosmologi perspektif Ulama’ tasawuf dengan merujuk pada perspektif Ibn Arabi, sehingga tidak ada pengulangan pembahasan. Karena hasil dialog ini sama dengan tema-tema perbincangan teman-teman akademisi bidang ilmu-ilmu keislaman, maka saya sampaikan kembali dalam bentuk tulisan berikut: Manusia mempelajari kejadian alam raya telah berlangsung sejak + 2, 200 SM. Hal ini merupakan bukti adanya kebutuhan manusia untuk mempelajari kejadian alam semesta. Secara filosofis, kebutuhan mempelajari alam semesta merupakan bagaian dari kebutuhan untuk mengetahui objek materi ilmu pengetahuan yang belum diketahui manusia. Pengetahuan tentang objek materi ilmu pengetahuan ini untuk mendapatkan kepastian, kebenaran, dan keyakinan hidup di tengah kekhalifahan bumi. Pengetahuan yang selalu menjadi objek kebutuhan manusia akan selalu berkembang sesuai dengan perkembangan cara berfikir rasional dan empiris manusia. Karenanya, beberapa pakar bidang keilmuan ingin mengakhiri pengetahuan yang masih dalam pencarian dengan melakukan klaim kebenaran sebagai kebenaran yang final. Klaim kebenaran ini merupakan bentuk cara ilmuwan untuk mendapatkan legitimasi kekuasaan di bidang ilmu pengetahuan. Dalam konteks inilah, pencapaian seorang ilmuwan pada kebenaran ilmu pengetahuan merupakan bentuk kekuasaan seorang ilmuwan di tengah-tengah perkembangan ilmu pengetahuan. Berbagai cara telah dilakukan para ilmuwan untuk mendapatkan legitimasi kekuasaan pada bidang keilmuan yang ditekuninya. Misalnya, dengan memperkuat bidang ilmu pengetahuan yang ditemukannya dengan merasionalisasikan dan mengempiriskan objek materi ilmu pengetahuan. Klaim rasional dan empiris ini mereka buktikan dengan metodologi dan metode, dengan tujuan untuk mebuktikan kebenaran, kepastian, dan keyakinan pada objek materi ilmu pengetahuan. Kehendak untuk mendapatkan pengakuan telah mencapai kepastian, kebenaran, dan keyakinan pada objek ilmu pengetahuan, adalah bukti berfilsafat itu merupakan kebutuhan fitrah keberadaan manusia. Karenanya, manusia akan selalu ingin mencapai kesadaran dan pengertian: bagaimana dapat memenuhi kebutuhan pengetahuan diri dan memahami proses perolehan pengetahuan yang telah dipahami dan diyakini orang lain? Dalam konteks yang lebih luas, bagaimana menjadikan kesatuan subjek dan objek materi pengetahuan? Bagaimana mencapai kebenaran, kepastian, kepercayaan pada objek materi ilmu? Karena berfilsafat itu fitrah manusia, maka setiap orang akan mengalami kegelisahan perkembangan berfikir untuk mendapatkan jawaban supaya bisa sampai pada objek ilmu pengetahuan yang difikirkan. Dalam kisah filosof klasik, pernah muncul kegelisahan yang mengusik perkembangan berfikir, berupa kehendak untuk mendapatkan kepastian, kebenaran dan keyakinan tentang kosmologi. Kisah para filosof klasik ini dapat ditemui di Cina, India, Mesir, Italia dan Yunani. Misalnya, filosof yang bernama Aristoteles, yang menulis buku tentang teori empiris keberadaan bumi sebagai pusat alam raya yang berbentuk bola raksasa. Sebelum Aristoteles kajian tentang alam (kosmologi) sudah ada sejak zaman pra Sokrates. Jika merujuk pada catatan kajian kosmologi merupakan bentuk kajian yang malampaui zaman pra sokrates, zaman sokrates, zaman skolastik (pertengahan) atau The Dark Age (zaman kegelapan) yang mengedepankan doktrin agama. Karenanya, kajian kosmologi masih berlangsung hingga pereode ilmiah (rasional dan empiris) sekarang ini. Berbeda dengan perkembangan ilmu pengetahuan zaman para filosof ini, para Ulama bidang ilmu tasawuf memberikan pandangan tentang kosmologi tidak terbatas pada perspektif rasional, namun juga memberikan pandangan yang mistik yang berada dibalik sebuah gejala yang terlihat secara fisik. Karena kosmologi perspektif sufistik telah tersebar dalam khazanah teks klasik (at turast), maka dalam refleksi ini akan lebih mendalami secara singkat tentang kosmologi Ibn Arabi dan beberapa pemikiran yang terlupakan dalam kajian tema kosmologi. Secara geneologis, Ibnu ‘Araby bernama Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Hatim. Sebagai seseorang yang sudah berpredikat guru kesufian, ia juga memiliki nama Abu Bakr, Abu Muhammad dan Abu Abdullah. Kebanyakan orang memahami gelar akademiknya yang terkenal, berupa Muhyiddin Ibnu Arabi. Beberapa gelar yang dimilikinya, adalah Syeikhul Akbar. Prinsip dasar dari pandangan kosmologis Ibn ‘Arabi, adalah prinsip ajaran wahdah al wujud. Prinsip kosmologis ini telah mempengaruhi karya-karya sufistiknya. Karakter sufistik ini telah dibentuk di tengah keluarga sendiri, yang selalu mengedepankan keteguhan prinsip: untuk mencapai kebenaran, kepastian, kepercayaan tidak hanya terbatas pada sesuatu yang bersifat rasional, namun juga pada yang ada dibalik rasionalitas yang benar-benar lebih realistis terjadi pada apa yang dibalik realitas.   Wahdah Al Wujud Konsep wahdah al wujud merupakan konsep yang sampai sekarang masih dianggap liar oleh mayoritas ulama dan jama’ahnya di seluruh dunia. Di asia tenggara dan di Indonesia, konsep wahdah al wujud merupakan konsep yang sudah dikatagorikan sebagai konsep keberagamaan yang sesat dan menyesatkan. Karenanya, para Ulama sepakat tidak memasukkan konsep ini sebagai kurikulum pembelajaran di lembaga pendidikan, seperti di lembaga pendidikan pesantren. Dalam tradisi Islam Nusantara, ketegasan bentuk penolakan konsep wahdah al wujud telah diwujudkan dalam kisah pengadilan hingga hukuman mati terhadap tokoh Ulama besar, bernama Syekh Siti Jenar, yang dikatagorikan sebagai penyebar ajaran wahdah al wujud. Karenanya, jika Syekh Maulana Siti Jenar dikatagorikan sebagai penyebar ajaran wahdah al wujud, maka menjadi tidak tepat jika memasukkannya pada geneologi teks pemikiran Syekh Maulana Al Hallaj. Konsep suluk Syekh Maulana Al Hallaj lebih menekankan pada konsep hulul, yaitu jika manusia bergerak kuat dengan gerak kesadaran “wujudullah” hingga membentuk keberadaan fisik dan jiwa, maka secara otomatis wujud Allah akan turun berada pada eksistensi manusia. Sebagai sebuah perbandingan, konsep Syekh Maulana Al Hallaj ini berbalik dengan konsep Syekh Maulana Abu Yazid Al Bustami. Syekh Maulana Abu Yazid Al Bustami menegaskan pada konsep Ittihad, yaitu jika manusia bergerak kuat dengan gerak kesadaran “wujudullah” hingga membentuk keberadaan fisik dan jiwa, maka secara otomatis akan memudahkan manusia naik berada pada kesatuan dengan wujud Allah. Berbeda dengan konsep Syekh Maulana Al Hallaj dan Syekh Maulana Abu Yazid Al Bustami, konsep Syekh Maulana Ibn Al Arabi menegaskan peluang pencapaian manusia pada kesatuan antara keberadaan manusia dengan wujud Allah dengan tanpa proses Hulul dan Ittihad. Secara spesifik, konsep wahdah al wujud Syekh Maulana Ibn Arabi mendasarkan pada konsep kesatuan kosmologis dengan Allah Jalla Jalaluhu. Konsep ini mendapatkan respon negatif dari para Ulama’ sezaman dan sesudah zamannya hingga sekarang. Kesalahpahaman terhadap konsep wahdah al wujud Ibn Arabi karena disebabkan kesalahan memaknai maksud wahdah al wujud Ibn Arabi. Misalnya, pandangan yang menganggap adanya konsep wahdah al wujud Ibn Arabi sebagai bentuk konsep yang menghalalkan pengakuan manusia sebagai Allah Jalla Jalaluhu. Sebenarnya, adanya anggapan negatif kepada Syekh Maulana Ibn Arabi ini perlu mendapatkan klarifikasi secara jernih, sehingga tidak berkepanjangan berada dalam kesalahan memahami kepribadian seorang Ulama besar yang berjasa membukakan hijab para pengikutnya hingga mampu menatap arus besar cahaya Allah Jalla Jalaluhu. Jika penulis tarik pada kerangka teoritis, maka konsep wahdah al wujud yang telah menjadi suluk Syekh Maulana Ibn Arabi dapat dipahami dari simpulan berikut: seluruh keberadaan alam penciptaan (alam al makhluqah) yang bersifat ilusi pada alam yang “seolah-olah” rasionalis dan empiris, adalah satu kesatuan dengan satu wujud. Dalam pandangan Syekh Maulana Ibn Arabi, konsep wahdah al wujud inilah yang lebih realistis dan empiris. Konsep ini telah dibuktikan dengan adanya ketidakabadian alam penciptaan, ilusi, sementara, dan terbatas pada setiap musim sesuai kesempatan keberadaannya bertahan di tengah ketidakabadian alam penciptaan ini. Kerangka teoritik yang dapat penulis rajut dari konsep wahdah al wujud, berupa keseluruhan gerak alam penciptaan merupakan gerak rahmani-Nya (QS.01:01) dalam kesatuan kehendaknya [QS.16: 40]. Artinya, adanya firman Allah Jalla Jalaluhu yang menunjuk sebuah keberadaan alam penciptaan, adalah perbuatan Allah sendiri (af’al Allah). Dalam pemahaman yang lebih aplikatif, konsep wahdah al wujud Syekh Maulana Ibn Arabi dapat dipahami dari firman-Nya: Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan tentang perkataan yang baik sebagai sebuah pohon yang baik, yang akarnya kokoh dan dahan-dahannya menjulang tinggi? [QS. 14: 24]. Rahasia pohon ini, adalah pohon yang tumbuh dari benih “kun” yang kemudian menjadi “fayakun”, yang diperkuat lagi dengan pengakuan-Nya, bahwa Allah Jalla Jalaluhu yang menciptakan manusia [QS.56:57]. Dari satu benih “kun” ini yang kemudian berkembang menjadi tunas yang berbeda-beda sesuai dengan fitrah manusia [QS. 54: 49].Sebenarnya, Syekh Maulana Ibn Arabi hendak menegaskan, bahwa konteks perkembangbiakan satu tunas menjadi dua tunas ini harus diingat, adalah berasal dari satu pohon yang berakar dari kehendak Allah Jalla Jalaluhu (iradah) dan tumbuh dari keputusan Allah Jalla Jalaluhu (qudrah). Karenanya, dalam keseluruhan keindahan dan kesempurnaan objek pandangan pada alam penciptaan merupakan satu kesatuan yang tumbuh subur dari sumber kebenaran tunggal (al mabda’ al ahad): Allah Jalla Jalaluhu. Jadi, kemampuan seseorang merasakan energi kebenaran tunggal dalam kesatuan iradah dan qudrah Allah Jalla Jalaluhu, adalah bentuk kesempurnaan jalan kebenaran yang lurus dan tidak berbelok [QS.5:3], yang disebut dengan prinsip agama Islam. Meskipun demikian, ternyata tidak semua manusia yang telah mendapatkan amanah sebagai khalifah Allah Jalla Jalaluhu menerima konsep wahdah al wujud. Hal ini disebabkan beberapa hal: pertama, karena fanatik kelompok. Kedua, karena ketidaktahuan. Ketiga, karena lebih mengedepankan sikap menolak terhadap konsep wahdah al wujud. Kondisi perbedaan ini menjadi berkembang bersamaan dengan kondisi psikis manusia yang berat melepaskan diri dari nafs al amarah bissu’ yang telah berintegrasi dengan syahwat dan hawa. Jika sikap ini bertemu dengan ketidakjelasan objek materi yang dibaca (baca: Iblis), maka akan berubah menjadi sikap yang berlawanan dengan nur al-ma’rifah (cahaya pengetahuan). Jika berlawanan dengan cahaya pengetahuan, maka akan menjadi kepribadian yang jahl atau nakirah (ketidaktahuan/kebodohan). Sikap kepribadian seperti ini akan melemahkan atau mengkroposkan hakikat sebuah keberadaan (eksistensi) diri di tengah kekhalifahan bumi, yaitu sebuah keberadaan yang mampu menyuruh pada kebaikan dan mencegah pada kemunkaran [QS.3:109). Dalam merajut konsep wahdah al wujud Syekh Maulana Ibn Arabi ini, penulis teringat pada sabda kekasih manusia dan alam penciptaan (Al Mustafa Muhammad), yang berbunyi: Inna Allah Khalaqa Khalqahu Fi Dzulmatin Tsumma Rassya ‘Alaihim Min Nurihi Fa man Asabahu Dzalika An Nuru Ihtada-a Wa man Akhtha’a Dzalika An Nuru Dzalla wa Ghawa. Artinya, sesungguhnya Allah menciptakan mahluk dalam alam kegelapan, kemudian Allah Jalla Jalaluhu memancarkan cahaya-Nya pada kegelapan. Karenanya, bagi siapa saja yang telah mendapatkan cahaya-Nya, maka akan mengikuti petunjuk kebenaran berjalan dengan penuh keseimbangan jiwa dan kepribadian yang baik. Sebaliknya, bagi yang berbuat salah menentukan jalan cahaya tersebut, maka dia akan tersesat dan merasakan kerugian di tengah kekhalifahan bumi ini. Kosmologi yang Hilang Dari Ingatan Sebelum memaparkan kosmologi yang hilang dari ingatan, perlu ditegaskan makna kosmologi. Pemaknaan terhadap istilah kosmologi bertujuan untuk menegaskan objek materi pengetahuan yang menjadi pilihan kajian sub pembahasan ini. Secara etimologi, kosmologi disebut dengan istilah Philosophy of Nature. Artinya, filsafat alam semesta. Istilah kosmologi terambil dari bahasa Yunani: kosmos dan logos. Kosmos berarti susunan alam yang sumetris atau susunan alam yang memiliki keteraturan. Sedangkan, logos berarti kajian. Istilah kosmos berlawanan dengan kata chaos yang berarti keadaan kacau balau. Secara terminologis, kosmologi berarti kajian tentang suatu keberadaan struktur dan sifat alam penciptaan yang telah dianugrahkan Allah Jalla Jalaluhu kepada manusia. Karenanya, dalam kajian kosmologi akan ditemukan istilah: makrokosmos dan mikrokosmos. Dalam filsafat jawa, makrokosmos disebut jagad gedhe, berupa alam semesta. Sedangkan, mikrokosmos disebut jagad cilik, yang berupa manusia. Jika alam semesta terdiri dari bintang dan planet-planetnya, maka manusia terdiri dari unsur jiwa dan fisiknya. Karenanya, jika alam semesta membutuhkan keseimbangan unsur yang berada di alam semesta, maka manusia juga memerlukan keseimbangan unsur yang berada dalam jiwa dan fisik manusia. Jika masing-masing kesinambungan unsur pada kedua alam ini tidak bergerak dengan baik, maka kedua alam ini tidak akan bertemu dengan baik dalam keterkaitan yang kokoh antara jagad gede dan jagad jilik. Yang menarik pada kedua unsur kosmologi ini, yang sangat berpengaruh justru manusia sebagai jagad cilik. Karenanya, jika manusia tidak mengikuti kehendak dan keputusan Allah Jalla Jalaluhu, maka akan timbul kerusakan besar, baik terkait dengan jagad gede maupun terkait dengan jagad cilik. Jadi, keberlangungan kedua jagad raya atau kosmologi ini akan terkait dengan tanggung jawab penjagaan manusia. Hal ini secara otomatis menunjukkan kuasa kekhalifahan alam semesta terletak pada manusia. Artinya, bentuk keberadaan alam semesta ini menunjukkan wujud jamaliyah dan kamaliyah Allah Jalla Jalaluhu (tajalli). Dalam konteks kosmologis, Allah Jalla Jalaluhu, adalah dzat yang menyaksikan alam penciptaan-Nya sendiri dan dzat yang dilihat alam penciptaan-Nya. Dalam puncak kesadaran ini, manusia telah menyaksikan Allah Jalla Jalaluhu secara non fisik melalui bentuk fisik penciptaan gerak rahmani-Nya (locus of manifestation). Jika manusia memahami konsep wahdah al wujud, maka akan menemukan simpulan, bahwa yang paling bertanggung jawab terhadap alam penciptaan ini, adalah Manusia. Adanya bentuk kesatuan kosmologis yang bersumber dari wujud Allah Jalla Jalaluhu ini telah diamanhkan kepada manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Oleh karena itu, adanya kerusakan kosmologi alam akan menjadi tanggung jawab manusia. Artinya, keberlangsungan alam penciptaan ini sudah menjadi amanah tanggung jawab manusia untuk menjaga kelestariannya. Dalam perkembangan diskursus tentang tema kosmologi, telah memunculkan kesadaran dan pandangan manusia tentang adanya keterkaitan fungsi alam sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan antara satu sama lainnya, karena kehidupan ini berlangsung secara simbiosis mutualisme. Dalam kajian tentang kosmologi ini, juga ditemukan topik yang ada sebagai pencipta dan yang berada sebagai yang diciptakan. Selain itu, tema kosmologi juga membahas antara alam semesta dan penjagaan, antara lingkungan lestari dan manusia. Tema-tema tentang kosmologi ini berlangsung hingga sekarang, namun ada yang tidak mengakui dan ada yang selalu melupakannya hingga selalu berupaya menghilangkannya, yaitu konsep wahdah al wujud. Karenanya, konsep yang diusung Syekh Maulana Ibn Arabi ini menjadi penting, karena menjadi konsep yang akan terus mengingatkan manusia. Dengan demikian, setiap manusia akan selalu diingatkan oleh Syekh Maulana Ibn Arabi, keberadaan manusia sangat terkait dengan wujud Allah yang suci dan terkait dengan alam semesta, seperti lingkungan lestari. Jika manusia melepaskan diri dari kesatuan gerak dan energi rahmani, maka akan selalu mengalami kehampaan, kegalauan, kesedihan, dan bergerak dengan tanpa mengartikan hidup secara baik. Jika manusia membiarkan kerusakan lingkungan lestari atau berusaha merusaknya, maka akan menemukan bencana dan kesakitan fisik maupun psikis terhadap fenomena perkembangan alam yang kian rusak dan tidak ramah terhadap keberadaan kekhalifahan bumi. Hal ini disebabkan tangan manusia yang tidak ramah terhadap lingkungannya sendiri. Dengan alasan kosmologis, penjagaan terhadap alam penciptaan dan terhadap lingkungan lestari benar-benar menjadi tanggung jawab seluruh umat manusia yang harus diperhatikan. Jika manusia mengabaikannya, maka akan menemukan kerusakan yang merugikan seluruh umat manusia. Jika diartikan secara spesifik, adanya konsep wahdah al wujud dalam konteks kosmologis, adalah manusia merupakan bagian dari alam semesta yang diantaranya berupa lingkungan lestari. Alam semesta adalah alam penciptaan yang menjadi bagaian dari pencipta: Allah Jalla Jalaluhu Al Khaliq. Alam semesta ini merupakan bentuk jamaliyah dan kamaliyah Allah Jalla Jalaluhu yang dapat disaksikan secara langsung oleh umat manusia. Jika lingkungan lestari mengalami peristiwa kerusakan yang parah, maka akan menggelapkan jiwa manusia dan merusak kepribadian manusia. Bentuk keindahan dan kesempurnaan alam lingkungan lestari ini dapat menjadi pembuka indera dan jiwa menyaksikan wujud Allah Jalla Jalaluhu. Allah Jalla Jalaluhu tidak terikat oleh alam penciptaan, namun kesempurnaan keindahan dan kesempurnaan alam penciptaan dapat membuka tabir ketidaktahuan dan kegelapan jiwa tentang wujud Allah. Hal ini terbaca dengan jelas, bagaimana hidup ditengah industri dan lalu lalang kendaraan bermotor yang mengeluarkan asap tabal yang menjadikan polusi udara? Hal ini dapat dibandingkan dengan kondisi hidup di tengah perbukitan yang asri dan lingkungan yang lestari, yang dikelilingi air memancar dari pegunungan. Di pegunungan ini terdapat air yang telah mengalir langsung dari sumber mata air melalui bebatuan dan semak-semak telaga, lingkungan persawahan perbukitan dan pegunungan yang lestari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s