Pendapat Ulama’ Masyhur mengenai Maulid

Ibnu Taimiyyah mengatakan :
وأما اتخاذ موسم غير المواسم الشرعية كبعض ليالي شهر ربيع الأول ، التي يقال إنها المولد ، أو بعض ليالي رجب ، أو ثامن عشر ذي الحجة ، أو أول جمعة من رجب ، أو ثامن شوال الذي يسميه الجهال عيد الأبرار ، فإنها من البدع التي لم يستحبها السلف ، ولم يفعلوها
“Adapun menjadikan suatu perayaan selain perayaan-perayaan yang disyariatkan seperti sebagian malam bulan Rabi’ul Awal yang disebut malam kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau sebagian malam Rojab atau tanggal delapan Dzulhijjah atau awal Jum’at bulan Rojab atau delapan Syawwal yang disebut oleh orang-orang jahil sebagai ‘Id al Abror, semua itu termasuk bid’ah yang tidak dianjurkan oleh salafush shalih dan tidak mereka lakukan.”[1]
Di sini Ibnu Taimiyyah dengan tegas mengatakan bahwa memperingati perayaan malam Maulid adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh ulama salaf dan tidak dikerjakan.
Dalam tempat yang lain, Ibnu Taimiyyah mengatakan :
وكذلك ما يحدثه بعض الناس: إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى-عليه السلام-،وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم، والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد لا على البدع – من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه وسلم عيداً مع اختلاف الناس في مولده ، فإن هذا لم يفعله السلف مع قيام المقتضي له ، وعدم المانع فيه لو كان خيراً ، ولو كان خيراً محضاً أو راجحاً لكان السلف – رضي الله عنهم- أحق به منا ،فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله صلى الله عليه وسلم وتعظيماً له منا ،وهم على الخير أحرص،وإنما كمال محبته وتعظيمه في متابعته،وطاعته واتباع أمره، وإحياء سنته باطناً وظاهراً ، ونشر ما بعث به ، والجهاد على ذلك بالقلب واليد واللسان ، فإن هذه طريقة السابقين الأولين من المهاجرين والأنصار،والذين اتبعوهم بإحسان،وأكثر هؤلاء الذين تجدهم حرَّاصاً على أمثال هذه البدع-مع ما لهم فيها من حُسن القصد والاجتهاد الذي يرجى لهم بهما المثوبة – تجدهم فاترين في أمر الرسول صلى الله عليه وسلم عما أُمروا بالنشاط فيه ، وإنما هم بمنزلة من يزخرف المسجد ولا يصلي فيه ،أو يصلي فيه قليلاً ،وبمنزلة من يتخذ المسابيح والسجادات المزخرفة، وأمثال هذه الزخارف الظاهرة التي لم تُشرع ،ويصحبها من الرياء والكِبْر ،والاشتغال عن المشروع ما يفسد حال صاحبها
“ Begitu pula (termasuk bid’ah zamaniyyah) yaitu apa yang diadakan oleh sebagian manusia, baik yang tujuannya untuk menghormati orang-orang Nashrani atas kelahiran ‘Isa ataupun karena mencintai Nabi. Kecintaan dan ijtihad mereka dalam hal ini tentu akan mendapatkan pahala di sisi Allah, tetapi bukan dalam hal bid’ah – seperti menjadikan kelahiran Nabi sebagai hari raya tertentu – padahal manusia telah berbeda pendapat tentang tanggal kelahiran beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Perayaan seperti ini belum pernah dilakukan oleh para salaf, meski ada peluang untuk melakukannya dan  tidak ada penghalang tertentu bagi mereka untuk melakukannya. Seandainya perayaan itu baik atau membawa faedah, tentu para salaf lebih dulu melakukannya daripada kita karena mereka adalah orang-orang yang jauh lebih cinta kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan lebih mengagungkannya. Mereka lebih tamak kepada kebaikan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kesempurnaan cinta dan pengagungan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan cara mengikutinya, mentaatinya, menjalankan perintahnya, menghidupkan sunnahnya – baik secara lahir maupun batin – menyebarkan apa yang diwahyukan kepadanya, dan berjihad di dalamnya dengan hati, kekuatan, tangan, dan lisan. Itulah cara yang digunakan oleh para salaf, baik dari golongan Muhajirin, Anshar, maupun orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dalam mencintai dn mengagungkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Adapun orang-orang yang gigih dalam melakukan kegiatan bid’ah peringatan Maulid Nabi itu – yang mungkin mereka mempunyai tujuan dan ijtihad yang baik untuk mendapatkan pahala – bukanlah orang-orang yang mematuhi perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan semangat. Mereka adalah seperti kedudukan orang-orang yang memperindah masjid, tetapi tidak shalat di dalamnya, atau hanya melaksanakan shalat malam di dalamnya dengan minim, atau menjadikan tasbih dan sajadah hanya sebagai hiasan yang tidak disyari’atkan. Tujuannya adalah untuk riya’ dan kesombongan serta sibuk dengan syari’at-syari’at yang dapat merusak keadaan pelakunya”[2]
Ibnu Taimiyyah di sini menyimpulkan bahwa :
– Apa yang dilakukan kaum muslimin dari mengagungkan Nabi akan mendapat pahala dari Allah Ta’ala. Sedangkan menjadikan perayaan Maulid Nabi sebagai id (hari raya) maka tidak akan mendapatkan pahala, karena itu dianggap bid’ah.
– Menjadikan Maulid Nabi sebagai hari raya, tidak pernah dilakukan ulama salaf padahal ada peluang untuk melakukannya dan tidak ada halangan untuk mengerjakannya.
– Seandainya maulid itu baik atau rajih (dipertimbangkan), maka salaf akan melakukannya karena salaf adalah orang yang paling mencintai dan mengagungkan Nabi.
– Walaupun maulid itu bid’ah, akan tetapi Ibnu Taimiyyah berharap para pelaku yang memiliki ijtihad, niat dan tujuan yang baik akan mendapat pahala dari Allah dalam masalah ini.
Jadi menurutnya, para pelaku Maulid itu diberi pahala karena hatinya dengan niat yang baik, sedangkan perbuatannya mendapat dosa karena melakukan perbuatan bid’ah.
Walaupun demikian, menurut hemat Ibnu Taimiyyah, juga tidak bisa dipungkir, dalam acara Maulid Nabi pun terdapat berbagai kebaikan dan tujuan yang baik yang pelakunya akan dibalas dengan pahala oleh Allah Ta’ala. Ibnu Taimiyyah mengatakan :
إنما العيد شريعة فما شرعه الله اتبع وإلا لم يحدث في الدين ما ليس منه وكذلك ما يحدثه بعض الناس إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام ، وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم وتعظيماً له والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد لا على البدع : من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه وسلم عيداً مع اختلاف الناس في مولده فإن هذا لم يفعله السلف ، مع قيام المقتضى له وعدم المانع منه ، ولو كان هذا خيراً محضاً ، أو راجحاً  لكان السلف رضي الله عنهم أحق به منا
“ Sesungguhnya hari raya itu adalah syare’at, apa yang Allah syare’atkan, maka ikutilah, dan apa yang tidak, maka tidak melakukan perbuatan baru dalam agama yang bukan termasuk darinya. Begitu pula (termasuk bid’ah zamaniyyah) yaitu apa yang diadakan oleh sebagian manusia, baik yang tujuannya untuk menghormati orang-orang Nashrani atas kelahiran ‘Isa ataupun karena mencintai Nabi. Kecintaan dan ijtihad mereka dalam hal ini tentu akan mendapatkan pahala di sisi Allah, tetapi bukan dalam hal bid’ah – seperti menjadikan kelahiran Nabi sebagai hari raya tertentu – padahal manusia telah berbeda pendapat tentang tanggal kelahiran beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Perayaan seperti ini belum pernah dilakukan oleh para salaf, meski ada peluang untuk melakukannya dan  tidak ada penghalang tertentu bagi mereka untuk melakukannya. Seandainya perayaan itu baik atau membawa faedah, tentu para salaf lebih dulu melakukannya daripada kita….”
Kemudian Ibnu Taimiyyah mengatakan :
فتعظيم المولد واتخاذه موسماً : قد يفعله بعض الناس ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده وتعظيمه لرسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كما قدمته لك أنه يحسن من بعض الناس : ما يستقبح من المؤمن المسدد ولهذا قيل للإمام أحمد عن بعض الأمراء : إنه أنفق على مصحف ألف دينار ونحو ذلك فقال : دعه ، فهذا أفضل ما أنفق فيه الذهب أو كما قال مع أن مذهبه : أن زخرفة المصاحف مكروهة وقد تأول بعض الأصحاب أنه أنفقها في تجديد الورق والخط وليس مقصود أحمد هذا وإنما قصده : أن هذا العمل فيه مصلحة وفيه أيضاً مفسدة كره لأجلها فهؤلاء إن لم يفعلوا هذا وإلا اعتاضوا الفساد الذي لا صلاح فيه مثل أن ينفقها في كتاب من كتب الفجور ككتب الأسمار أو الأشعار أو حكمه فارس والروم
“ Maka mengagungkan hari kelahiran Nabi dan menjadikannya suatu perayaan ; terkadang dilakukan oleh sebagian orang dan ia mendapat pahala yang agung di dalamnya karena tujuan yang baik dan pengagungan kepada Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana telah aku jelaskan dahulu padamu bahwasanya kejelakan seorang mukmin yang benar akan menjadi kebaikan bagi sebagian orang, sebagaimana dikatakan kepada Ahmad bin Hanbal tentang sebagian pejabat yang menginfakkan seribu dinar atas mushaf atau semisalnya, lalu beliau menjawab, “ Biarkanlah, ini lebih utama dari ia menafkahkan dengan emas, atau sebagaimana dikatakan padahal madzhab beliau sesungguhnya menghiasi mushaf itu adalah makruh. Sebagian ashab hanabilah mentakwil bahwa maksudnya adalah bahwa ia menafkahkan di dalam memperbaharui kertas dan ini bukanlah maksud imam Ahmad akan tetapi maksudnya adalah “ Bahwa perbuatan ini ada maslahatnya dan juga ada mafsadatnya yang dinilai makruh karenanya. Mereka jika tidak melakukan ini dan jika tidak mereka akan bertambah kerusakannya yang tidak ada perbaikannya, semisal ia akan menafkahkan di dalam kitab-kitabnya ahli fujur seperti kitab asmar, syair atau menghukuminya faris dan rum “.[3]
Dengan fakta tersebut, tokoh controversial ini tidak membenarkan pelarangan Maulid tanpa perhitungan matang. Pihak yang melarang maulid pun sering tidak lebih baik dari pada pihak pro maulid. Ajaran Islam tentang amar ma’ruf nahi mungkar perlu dipahami secara benar. Maka kemungkaran tidak boleh dicegah melainkan disertai amar ma’ruf. Sebagaimana perintah menyembah Allah Ta’ala berarti larangan menyekutukan-Nya.
Oleh karenanya, jika mau melarang penyelenggaraan maulid Nabi harus dipertimbangkan dahulu, apakah ketika dilarang akan semakin lebih baik atau tidak, berganti melakukan amal shalih yang sesuai dengan tuntu agama atau lebih parah melakukan berbagai larangannya. Ini kesimpulan dari penjelasan Ibnu Taimiyyah berkenaan perayaan Maulid Nabi, dengan tujuan mulia, yakni mencintai dan menaggungkan Nabi shallahu ‘alahi wa sallam sesorang akan mendapatkan pahala agung dari Allah, walaupun sebenarnya amal yang dilakukannya adalah bid’ah seperti maulid Nabi shallahu ‘alahi wa sallam.
Tanggapan kami atas kesimpulan Ibnu Taimiyyah :
Alasan Ibnu Taimiyyah menilai peringatan Maulid bid’ah karena tidak dianjurkan oleh ulama salaf dan tidak dikerjakan, adalah suatu pandangan yang salah.
Apa yang tidak dilakukan oleh ulama salaf, bukanlah hujjah pelarangan untuk suatu perkara. Karena suatu perkara yang tidak dilakukan di masa Nabi, sahabat dan tabi’in dan dilakukan di masa setelahnya terkadang baik dan terkadang juga jelek. Menilainya baik atau jelek adalah dengan kaidah mulia yaitu jika sesuai dengan dalil al-Quran, sunnah dan ijma’ maka itu adalah perkara baru yang baik, dan jika bertentangan dengan dalil al-Quran, sunnah dan ijma’ maka itu adalah perkara baru yang jelek.
Imam al-Qurthubi mengatakan :
كل بدعة صدرت من مخلوق فلا يخلو أن يكون لها أصل في الشرع أولا، فإن كان لها أصل كانت واقعة تحت عموم ما ندب الله إليه وخص رسوله عليه، فهي في حيز المدح وإن لم يكن مثاله موجودا كنوع من الجود والسخاء وفعل المعروف، فهذا فعله من الافعال المحمودة، وإن لم يكن الفاعل قد سبق إليه
“ Setiap bid’ah yang dating dari makhluk, maka tidak terlepas dari dua perkara yakni adakalanya memiliki asal dalam syare’at atau tidak ada asalnya. Jika memiliki asal dalam syare’at, maka masuk dalam keumuman apa yang Allah dan Rasul-Nya anjurkan, perkara ini masuk pujian (baik), walaupun belum ada contoh sebelumnya semisal merk (macam/jenis) dari sifat kedermawanan, kemurahan dan pebuatan ma’ruf, maka ini semua ini jika dilakukan adalah termasuk perbuatan terpuji, meskipun belum ada contoh orang yang melakukannya…”[4]
Imam asy-Syafi’i pun mengatakan :
كل ما له مستند من الشرع فليس ببدعة ولو لم يعمل به السلف
“ Setiap perkara yang memiliki landasan dari syare’atnya, maka bukanlah bid’ah walaupun tidak dilakukan oleh ulama salaf “.[5]
Ibnul Qayyim mengatakan :
والقائل: إنَّ أحداً من السلف لم يفعل ذلك، قائل ما لا علم له به،فإنَّ هذه شهادة على نفي ما لم يعلمه، وما يدريه أن السلف كانوايفعلون ذلك ولايشهدون من حضرهم عليه
“ Orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya seorang dari salaf pun tidak ada yang melakukannya, maka dia adalah orang yang berucap tanpa dasar ilmu, karena hal itu adalah kesaksian atas penafian apa yang ia tidak ketahui, dan dia tidak mengetahui mungkin saja ada salaf yang melakukan hal itu akan tetapi tidak ada yang menyaksikan dari orang yang hadir “.[6]
Ibnu Taimiyyah menilai peringatan maulid itu bid’ah dengan alasan menjadikan Maulid Nabi sebagai hari raya, tidak pernah dilakukan ulama salaf padahal ada peluang untuk melakukannya dan tidak ada halangan untuk mengerjakannya.
Dalam hal ini, Ibnu Taimiyyah keliru menilai sisi tathbiqnya, karena maulid Nabi tidak ada sesuatu hal yang mengharuskan untuk melakukannya di masa Nabi maupun di masa tiga kurun terbaik, karena di masa-masa itu para sahabat atau ulama salaf tidak butuh suatu acara untuk mengingat-ingat supaya lebih mencintai dan mensyukuri Nabi, sebab mereka para sahabat sudah cukup kuat keimanannya kepada Nabi, bahkan suduh cukup Nabi yang selalu berjumpa, bertemu dan menasehati para sahabat langsung ketika itu yang hidup di tengah-tengan para sahabatnya. Tidak seorang pun dai sahabat yang mengalami kesyubhatan, kecuali Nabi mencerahkannya, tidak seorang pun dari sahabat yang kesumpekan dan kesusahan kecuali Nabi melapangkannya, tidak seorang pun dari sahabat yang mengalami kerasnya hati atau was-was kecuali pada Nabi lah mereka menemukan obat dan penawarnya. Hati mereka penuh dengan keimanan, ketenangan dan kekuatan taqwa. Selalu mengikuti sunnah Nabi, mengikuti jejak Nabi dan menysukuri nikmat diwujudkannya Nabi serta selalu mengingat Nabi.
Keadaan seperti ini terus berlangsung hingga masa tabi’in, sehingga mereka sama sekali tidak memikirkan atau bahkan tidak terlintas untuk mengadakan suatu acara agar memberikan motivasi dalam mencintai dan mensyukuri nikmat diutusnya Nabi. Maka setelah masa-masa mulia itu berlalu, umat muslim mulai sibuk dengan urusan keduniawiaan, sibuk dengan urusan urusan yang melalaikan, maka sedikit sekali orang yang mendars al-Quran, sedikit sekali orang yang membaca ejarah Nabinya, sedikit sekali orang yang membaca sejarah salafnya, maka semakin zaman menjauh dari masa mereka, semakin buruk zaman berikutnya. Maka sangat dibutuhkan suatu metode (uslub) yang mampu mengingatkan sejarah Nabi, menumbuhkan rasa cinta dan rindu kepada Nabi, menumbuhkan rasa semangat keagamaan dan berbuat kebaikan. Maka metode di dalam menyambut hari kelahiran Nabi sebagai apresiasi rasa syukur atas nikmat wujudnya Nabi dan memotivator hati-hati kaum muslimin agar menjadi leih cinta, rindu dan selalu mengingat Nabinya, adalah suatu metode baru yang sangat efisien di dalam membuahkan nilai-nilai kelembutan dalam diri, nilai-nilai akhlak mulia sang Nabi, nilai-nilai kegembiraan dan kebahagiaan atas kelahiran sang Nabi yang mampu menumbuhkan kembali rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini menjadi penerang hati, bermajlis di majlis kebaikan, dzikir kepada Allah atas segala nikmatnya terutama nikmat Islam dan Iman sebab diutusnya Nabi tercinta, mendengar bacaan al-Quran, mendengarkan nasehat para penceramah, mendengarkan kisah perjalanan para nabi dan orang-orang shaleh di dalamnya, memperbanyak membaca sholawat dan salam kepada Nabi dan kebikan lainnya.
Majlis ini, cukup membuahkan keberkahan, kesaksian dengan wajah-wajah yang khuyu’, tunduk dan merendah hati. Merasakan hati-hati jama’ah yang takut akan siksa Allah, mengharap ampunan Allah, lisan yang selalu berdoa dan bersolawat dan semcamnya.  Uslub atau metode seperti ini terus berlanjut hingga sejak masa orang-orang shaleh di kurun ke-enam kemudian berlanjut pada Raja yang adil, rendah hati dan pemberani al-Mudzaffar dari Irbil dengan uslub dan metode yang lebih rapih lagi. Uslub mulia ini terus berlanjut dari masa ke masa, yang diridhai oleh orang-orang shalih, para ulama, ahli fiqih, ahli hadits, ahli tasawwuf dan semua kalangan muslimin hingga masa sekarang kita ini.
Kesimpulan :
1. Ibnu Taimiyyah menilai peringatan Maulid adalah bid’ah, akan tetapi tidak membenarkan pelarangannya dengan serta merta, tanpa pertimbangan matang, maslahat atau tidaknya, apalagi sampai mengkafir-kafirkan. Dan tidak mesti pula, orang yang melarangnya lebih baik dari orang yang gemar menyelenggarakan atau mengikutinya.
Kami (Aswaja) mengakui kelegalitasan peringatan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak serta merta memperbolehkan perayaan maulid dengan segala acara yang keluar dari nilai-nilai agama semisal ikhtilath laki dan permpuan, dicampur dengan joget atau lainnya.
2. Apa yang dituduhkan Ibnu Taimiyyah tentang peringatan Maulid Nabi shallahu ‘alahi wa sallam tidaklah benar sama sekali. Maka peringatan maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam meskipun ianya bid’ah akan tetapi bid’ah yang sesuai landasan dalil-dalil umum dari al-Quran, sunnah dan ijma’. Maka ini dinilai baik oleh jumhur ulama yang membolehkannya.
Ibnu Abdillah Al-Katibiy
Kota santri, 9 Rabiul Awwal 1435 H / 11 Januari 2014


[1] Al-Fatawa Al-Kubro: 4/414
[2] Iqtidlaa Ash-Shiraathil-Mustaqiim : hal 619-620
[3] Iqtidlaa Ash-Shiraathil-Mustaqiim : hal 622
[4] Tafisr al-Qurthubi : 2/84
[5] Dinukil dari kitab Husnu at-Tafahhum wa ad-Dark li mas-alah at-Tark, Abdullah al-Ghumari
[6] Ar-Ruh, Ibnul Qayyim : 143

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s