Suryadharma, Direktur PGE 2009

Perjalanan Panjang Suryadarma di Dunia Panas Bumi

WITING tresno jalaran soko kulino (cinta datang karena terbiasa). Tampaknya pepatah Jawa tersebut menggambarkan perjalanan Suryadarma, Direktur Utama Hasera Sagoesa, menuju karir panjangnya dalam dunia panas bumi. Napak tilas kehidupan pria berusia 56 tahun ini, dimulai di Desa Cot Bada, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara.
Berasal dari keluarga sederhana nan religius, sang ayah yang berprofesi sebagai guru sangat memengaruhi kehidupan akademis Suryadarma. “Sejak SD saya selalu menjadi juara kelas. Bahkan sempat dua kali loncat kelas,” ujarnya ketika saya temui di Wisma Foba, Jakarta Pusat, 7 Juli lalu.

Kondisi politik yang kurang bersahabat di Aceh, pada awal 60-an akibat pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI), membuat Suryadarma yang kala itu berusia lima tahun diungsikan orang tuanya ke rumah sang paman. Dua tahun kemudian, Suryadarma kembali berkumpul dengan kedua orang tuanya dan menghabiskan masa kecilnya di Kabupaten Bireun, Aceh. 

Usia remaja dihabiskan Suryadarma di Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireun, Aceh. Kala itu, dia dipercaya kedua orang tuanya untuk mengurus usaha toko kelontong milik keluarga. Meskipun dikenal sebagai anak alim, kenakalan khas remaja, diakui Suryadarma kerap dilakukannya. “Saya itu setiap maghrib, selalu ada di mesjid. Tapi, sepulangnya dari mesjid, pasti langsung lari nonton layar tancap sampai larut malam di kecamatan ha..ha,” ujarnya mengenang.

Meskipun menghabiskan banyak waktu dengan bermain, namun Suryadarma mengaku tidak melupakan kewajibannya untuk belajar. “Saya memiliki prinsip bebas bertanggung jawab. Jadi, meskipun nonton layar tancap sampai malam, semua pekerjaan sekolah harus beres.”

Usai merampungkan pendidikannya di sekolah menengah atas, pada 1975, Suryadarma memutuskan untuk meninggalkan Aceh dan Hijrah ke Bandung, Jawa Barat. “Cita-cita saya sejak SMA itu pengen masuk Institut Teknologi Bandung (ITB). Tapi jurusan apa yang harus saya ambil, masih belum ada gambaran,” paparnya. Mengaku ikut-ikutan teman, akhirnya, Suryadarma memilih jurusan Geologi, di Institut Teknologi Bandung.

“Ketika kuliah, saya belum bisa menikmati jurusan yang saya ambil kala itu,” katanya. Suryadarma mengaku lebih aktif dalam kegiatan kemahasiswaan. Kemampuannya menulis, membawa Suryadarma menjadi pengurus pers mahasiswa ITB, dan bergabung sebagai editor di majalah Scientiae pada 1979. Selain menjadi wartawan, Suryadarma juga aktif dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bahkan pada periode 1981-1983, dia didapuk menjadi Ketua Umum Pengurus Besar HMI.

Pada 1983, Suryadarma lulus dari ITB, dan bergabung dengan PT Pertamina pada 1985 dengan bidang kerja panas bumi. Saat itulah, Suryadarma mulai mencintai dunia geologi yang selama kuliah tidak pernah menarik perhatiannya. “Pertama kali bergabung di Pertamina, saya langsung ditempatkan di bidang panas bumi. Lama-lama karena terbiasa dengan pekerjaan ini, akhirnya saya suka menjadi seorang geolog,” paparnya.

Perjalanan panjang Suryadarma di bidang panas bumi bersama Pertamina berlangsung selama 24 tahun. Pada 2006 hingga 2009, dia dipercaya menjadi Direktur Operasi PT Pertamina Geothermal Energy. Kini, setelah berkiprah selama 24 tahun bersama Pertamina, Suryadarma memutuskan untuk fokus mengembangkan panas bumi melalui Asosiasi Panas bumi Indonesia (API).

Menurut dia, sejak 1974 hingga 1998, panas bumi kerap dijadikan anak tiri, di mana energi fosil mengambil peran utama dalam pengembangan energi nasional. Cadangan energi fosil yang terbatas menurut dia, akan menjadi petaka, apabila Indonesia tidak menjalankan diversifikasi energi melalui pengembangan energi terbarukan. “Indonesia itu sumber panas bumi terbesar di dunia. Sumber itu harus dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan energi kita yang selalu meningkat setiap tahunnya,” ujarnya.

Suryadarma mencatat, pemerintah mulai melirik pengembangan panas bumi pada 2006. Ditandai dengan terbitnya Peraturan Presiden (PerPres) Nomor 5/Tahun 2006, yang menetapkan pengembangan panas bumi pada 2025 mencapai lima persen atau sebesar 9.500 MegaWatt (MW). 

“Masalahnya, pembeli utama listrik panas bumi hanya PLN. Sehingga pemerintah harus memastikan, agar PLN menyerap listrik tersebut,” paparnya. Itu sebabnya, Suryadarma menyambut baik terbitnya Perpres Nomor 4/Tahun 2010, tentang penugasan kepada PLN untuk membeli listrik dari panas bumi dengan harga maksimal US$9,7 per kiloWatthour (kWh).

Pada 2010, bersama API, Suryadarma juga memprakarsai lahirnya deklarasi panas bumi di Bali, yang ditandatangani oleh 88 negara. Deklarasi tersebut dianggap menyokong visi pemerintah dalam proyek percepatan listrik tahap dua, di mana 30 persen, atau sekitar 4.773 MW akan dihasilkan dari panas bumi.

Dan tahun ini, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengeluarkan Visi Energi 25/25. Di mana pada 2025, 25 persen komposisi energi nasional akan disumbang oleh energi terbarukan, di antaranya pemanfaatan panas bumi sebesar 12.500 MW. Suryadarma mengaku perlu kerja keras untuk mencapai visi tersebut. Banyak indikator yang menurut dia harus dipenuhi, mulai dari sumber daya manusia, iklim politik dan keamanan yang kondusif, aspek bisnis, pendanaan perbankan, sistem menajemen yang kompeten, serta keterlibatan pemerintah daerah.

Siska Maria Eviline

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s