KH. Soleh Darat, Gurunya NU dan Muhammadiyah

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Nama Muhammad Saleh bin Umar Assamarani atau lebih dikenal dengan KH Sholeh Darat tidak asing di telinga masyarakat Kota Semarang. Di tempat Kiai Sholeh Darat itulah pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asyari berguru. Iya, Pendiri NU dan Pendiri Muhammadiyah berguru pada kiai yang sama yaitu KH Soleh Darat di Kota Semarang.
Di masjid inilah dua ulama besar itu berguru mengaji. Tempat yang kini berupa masjid itu, diyakini sebagai tempat tinggal dan pesantren KH Sholeh Darat. Masjid sudah dipugar, dulu bentuk aslinya berupa bangunan kayu.

Sang Guru itu telah menelurkan puluhan kitab dan karya-karyannya sangat terkenal. Kekaguman terhadap KH Sholeh Darat inilah yang mendorong sekelompok orang mendirikan Komunitas Pecinta KH Sholeh Darat (Kopisoda) sekaligus melestarikan tradisi keilmuan.
Untuk pertama kali, Kopi Soda mengadakan pengajian di masjid KH Sholeh Darat, Jl Kakap Semarang yang dihadiri sekitar seratus orang. Ini pengajian perdana.
Adapun kitab yang dikaji adalah kitab Hidayaturrahman yang merupakan ringkasan dari kitab Faidurrahhman karangan KH Sholeh Darat. Kitab Faidurrahman ini konon pernah dihadiahkan kepada RA Kartini sebagai kado pernikahan. Konon RA Kartini (Ibu Kita Kartini) adalah juga santriwati atau murid dari KH Sholeh Darat.
Agus Taufik, ahli waris KH Sholeh Darat mengapresiasi pembentukan Kopi Soda untuk nguri-nguri dan mengkaji kitab-kitab KH Sholeh Darat. Ia yakin, masih banyak keilmuan KH Sholeh Darat yang masih terpendam bersamaan dengan kitab-kitabnya yang belum ditemukan.
“Kami mempersilakan ada kegiatan seperti ini. Yang penting bisa istiqomah,” ujarnya, Minggu (20/3/2016)
Sholeh Darat hidup satu masa dengan Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani dan Kiai Kholil bin Abdul Latief atau Mbah Kholil dari Bangkalan, Madura. Puluhan karya telah tercipta dari tangan Sholeh Darat. Di antara karya yang paling terkenal adalah Majmu’at al-Syariat al-Syari’at al-Kafiat Li al-Awwan, yang merupakan kitab Arab pegon berbahasa Jawa pertama di Indonesia.
Yudi Prasetiawan, anggota pengurus Komunitas Pecinta KH Soleh Darat (Kopi Soda) terenyuh, ketika ratusan orang yang tergabung dalam Kopi Soda memadati masjid KH Sholeh Darat untuk mengkaji kitab-kitab karya KH Sholeh Darat.
Bukan sekadar mengenang kesalehan dan perjuangan sang kiai, lebih dari itu, Yudi berharap, kegiatan semacam ini dapat mempersatukan umat Islam dari berbagai Ormas Islam. “Kita ingin merangkul semua golongan. NU dan Muhammadiyah melebur jadi satu,” katanya, Minggu (20/03/2016) “Ikhtilaf itu biasa. Tidak ada pertentangan. Toh gurunya sama, KH Sholeh Darat,” katanya. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s