Minhajul ‘Abidiin – 001

Pendahuluan “Kearifan” Minhajul ‘Abidin:

Kajian Hermeneutika Terhadap Kitab Minhajul ‘Abidin Karya Imam Abu Hamid Al Ghazzali

Ubaidillah Achmad

Sehubungan dengan banyaknya permintaan dari teman teman kepada saya, agar saya lebih memfokuskan silaturrahim melalui jejaring sosial. Dengan demikian, dapat memberikan sisi yang khas dalam bentuk kajian teks klasik yang bermanfaat untuk penguatan tradisi pesantren dan kearifan pesantren. Karenanya, saya putuskan untuk mengkaji kitab minhajul abidin karya Hujjatul Islam, Syekh Maulana Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Al Ghazzali.

Kitab Minhajul Abidin karya alghazzali, telah banyak menginspirasi para ulama tradisi pesantren hingga punya sikap seperti sekarang ini, yaitu sikap ramah, moderat dan ramah terhadap sesama umat manusia. Para Ulama pesantren, tidak mudah terprofokasi dengan radikalisasi agama. Hasil bacaan saya ini, akan disampaikan secara ringkas setiap hari hingga selesai akhir bacaan.

Berikut ini, ringkasan pada Muqaddimah Minhajul Abidin karya Hujjatul Islam Al Ghazzali. Dalam ringkasan ini, ditegaskan hal hal penting secara ringkas:

Pertama, setiap Ibadah akan mendapatkan pahala dari Allah dan setiap usaha akan disyukuri (diberi balasan). Hal ini, seperti ditegaskan dalam QS. Al Insan (76): 22 — inna hadza kaana lakum jazaa-a wa kaana sa’yukum masykura. Maksud ayat Allah yang lebih tahu, namun kurang lebih sebagaimana berikut: inilah balasan untukmu, dan segala usahamu di terima dan diakui (Allah).

Kedua, tidak semua ilmu bisa disampaikan secara bebas kepada semua orang, karena tidak semuanya dapat menerima atau memahami dengan baik. Karena ada kemungkinan banyak orang yang gagal paham hingga memunculkan sikap penolakan terhadap ilmu yang sangat baik dan bermanfaat. Karenanya, dalam upaya menyampaikan ilmu, sebaiknya harus disesuaikan dengan kondisi psikis dan perspektif keilmuan atau daya tangkap seseorang yang diajak berbicara.

Sehubungan dengan dua hal tersebut, Al Imam Al Ghazzali mengutip syair Sayyidina Ali RA berikut:

Innii La-aktumu min ‘ilmi jawaahirahu kailaa yaraa dzaka dzu jahlin fayaftatina. Artinya, sungguh saya akan berhati hati untuk tidak mudah menyampaikan (terj. asli —sembunyikan) mutiara ilmu yang telah sampai kepadaku, supaya justru tidak menguatkan atau mendorong orang yang tidak menjangkau atau gagal paham (bodoh) menjadi orang yang tersesat.

Sebagai perumpamaan, ada ilmu tertentu jika terungkap, justru akan membuat orang yang berilmu itu dituduh musyrik. Selain itu, kemungkinan akan ada seseorang yang menghalalkan darah seseorang yang pikirannya tidak dapat dipahami dengan baik. Jika ini terjadi berarti, akan muncul banyak orang yang mengira perbuatan keji itu adalah perbuatan baik. Padahal setiap perbuatan keji, adalah dengan mudah dapat dipahami sebagai perbuatan keji. Sebaliknya, setiap perbuatan yang baik, juga akan mudah dipahami sebagai perbuatan yang baik. Mengapa tidak semudah ini? Karena setiap orang mempunyai pemahaman yang berbeda dan kepentingan yang berbeda.

Hal ini sesuai dengan kutipan Al Ghazzali berikut: Inna an nuura idza dakhala al qalbu infasakha wan syarakha, waqila ya rasulaAllah, hal lidzalika min ‘alamatin yu’rafu biha? faqala: at tajafa an daril ghururi wal inabatu ila daaril khuludi al isti’dadul mauti qabla nuzulil mauti. Artinya, ilmu itu jika sudah masuk ke dalam hati manusia, maka akan membuat hati menjadi lapang dan lega. Lanjutan dalam kutipan Al Ghazzali di dalam muqaddimah minhajul abidin ini, ada yang bertanya tentang tanda tandanya, yang kemudian dijawab Nabi sebagaimana berikut: (manusia) yang menjauhkan diri sari dunia dan menggantinya dengan pilihan untuk lebih memilih jalan yang menuju rumah keabadian, berupa mempersiapkan kematian sebelum datangnya kematian. Artinya, menjalani hidup dengan mengumpulkan amal kebaikan atau menjalankan darma yang sebanyak banyaknya.

Dalam pendahuluan ini, disebutkan ada tujuh tahapan jalan ibadah: tahap ilmu dan makrifat, tahapan tobat, tahapan godaan, tahapan rintangan, tahapan pendorong, tahapan cacat cacat, tahapan puji dan syukur.

Dalam kitab ini, ada tujuh tahapan langkah keutamaan uang memungkinkan dapat dilakukan seseorang dan menjadi strategi para darwis yang beribadah kepada Allah lebih merasakan hakikat ilmu dan ibadah. Tujuh tahapan ini, akan diuraikan secara bertahap hingga selesai pembacaam kitab (khatam).

Dalam konteks moral, keutamaan dan kebaikan nilai yang diuraikan Al Imam Al Gahzzali pada kitab ini, telah memiliki kesamaan pandangan dengan Filosof Immanuell Kant tentang keutamaan dan kebaikan hidup seseorang.

Rembang, 13 11 2016
Ubaidillah Achmad, Penulis buku Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng, Dosen UIN Walisongo Semarang dan Majlis Kongkow As Syuffah Sidorejo Pamotan Rembang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s